Archive for October, 2006

Ruang Menyusui

"ASI adalah hak hidup anak."

"Menyusui bukan hanya melibatkan Ibu & Anak, tapi juga masyarakat disekitarnya."

Kalimat2x itu kerap gw dengar saat ada pembahasan ttg ASI. Pernah juga gw liat di beberapa poster keluaran WHO/UNICEF dan artikel di majalah ato web. Berkaitan dgn itu, mestinya ada upaya dari masyarakat utk mensukseskan pemberian ASI (baik eksklusif, maupun lanjutan/hingga menyapih). Dari pemerintah sendiri sudah dimulai dgn mengakomodir WHO code ttg pemberian ASI eksklusif selama 6 bln. Pada prakteknya, masih banyak pelanggaran berkaitan dgn gencarnya promosi susu formula secara tidak berimbang/tidak etis (hm…ini juga perlu gw bikin blog nih…mengingat pengalaman kurang menyenangkan ttg susu formula…)

Kembali ke keterlibatan & dukungan masyarakat…Mengingat masa2x menyusui Aila secara eksklusif selama 6 bln & dilanjutkan s/d 22 bln emang penuh perjuangan. Sampe hari ini menyusui bayi dianggap ‘hal aneh’ karena yg ‘yg lazim’ adalah memberikan susu formula. Jadi fasilitas yg bisa mengakomodir kebutuhan para ibu menyusui mungkin masih dianggap sbg satu kemewahan ato bahkan hal yg menyulitkan. Kalo pun ada, kerap ’sekadarnya’ saja…seperti untuk menggugurkan kewajiban. Gak usah di mall, di RS tempat Aila kontrol aja ruang menyusuinya kecil & gabung sama tempat ganti popok, ACnya gak berfungsi, kalo lagi rame antrian DSAnya alamat gw harus ngantri nyusuin juga! :( Di Bali gw sempet terpaksa mojok di cafe demi nyusuin Aila & sekali lagi terpaksa nyusuin Aila di WC di sebuah boutique resto saat lagi dinner :( Di sebuah plaza di JakPus gw terpaksa nyusuin & ganti popok Aila di ruang pas cowoq yg jarang dipake, yg ditunjukin sm mba’2x SPG yg pengertian bgt :( Ruang menyusui di sebuah mall di JakSel malah sering ‘dipinjem’ sm mba’2x SPG ato ABG2x buat dandan & ganti baju :( Mana ruangannya panas (gak ber-AC, cuma ada lubang ventilasi yg gak tertutup…jadi kalo ujan tempias lah sm air ujan), penerangannya gak memadai, seadanya bgt deh :’( Di hypermarket di daerah Lb Bulus, ruang menyusuinya memadai sih tapi…lampunya redup (kalo gak boleh dibilang gelap) & AC-nya dingiii…in bgt. Kata Aa’ "Koq kaya’ kamar mayat ya?!". Aila juga gak mau gw susuin disitu. Begitu masuk dia langsung nyengkeram leher gw. Pas gw baringin, dia langsung kejer. Hm…

Beda bgt sm ruang menyusui di Suria KLCC, Malaysia. Pintunya automatic sliding door, jadi si ibu gak perlu repot dorong-tarik pintu sambil gendong babynya ato dorong stroller. Pintu ini juga berhenti bergerak secara otomatis kalo kedeteksi ada gerakan di dekatnya, jadi aman buat toddlers yg ikut ke ruangan tsb. Ruangannya luas, bersih, nyaman, rapi, & artistik. Di sisi kiri ada sejumlah dipan yg dilengkapi dgn wastafel utk keperluan ganti popok/baju. Di tengah ruangan ada 2 set sofa yg nyaman, yg bisa dipake buat ‘rombongan’ keluarga yg lagi jalan sm ibu tsb. Di belakang sofa2x tsb, ada mini playground yg dibatasi sm partisi kayu setinggi paha. Jadi toddlers yg ikut ke ruang ini bisa bermain sambil nungguin ibunya selesai menyusui. Terakhir & yg terpenting…di sisi kanan ada 2 ruang menyusui yg dibatasi dgn tirai yg sering kita liat di RS utk menyekat ruang. Ruang ini dilengkapi dgn sofa yg nyaman & ergonomis, serta couch kecil utk selonjoran kaki. Kebayang kan, gimana relaxnya nyusuin di ruang ini??? ;) Menurut Mba’ Camellia Dwinanto, rekan di Milis Sehat yg bermukim di KL, di ruang ini ada juga WC yg isinya 2 toilet bowls (standar & kecil). Asik kan??? :)

Ini baru ruang menyusui ideal. Soalnya desain ruang menyusui ini benar2x menggambarkan kalo menyusui itu everybody’s business! Buktinya ada sofa utk keluarga nunggu, playground utk toddlers, dipan ganti & pintu yg mengakomodir keterbatasan ibu, sofa menyusui yg ergonomis, dst. Belum lagi pencahayaannya, pengaturan suhu, desain kedap suara (jadi gak brisik, padahal di dlm mall gede!).

Jujur gw iri ngeliatnya. Mungkin apa yg gw liat di Suria KLCC aja gak cukup mewakili kondisi dukungan masyarakat terhadap kegiatan menyusui. Tapi setidaknya ada segelintir orang yg peduli. Kenapa disini gak??? Gw gak ngarepin ada yg buagus buanget kaya’ ini, at least kalo mall2x itu mau nyediain ruang menyusui please deh…do your best!!! I know you can. Bukan sekedar sepetak ruang tak terpakai yg diisi sama beberapa kursi, & meja + matras (ceritanya meja ganti popok…). Ruang menyusui di PIM 1, walau kecil tapi cukup nyaman & memadai. Bisa tuh jadi template…

Waktu keluar Perda ttg merokok di tempat umum, rame2x perokok protes. Nuntut tempat ngerokok yg sesuai standar lingkungan hidup dll. Hello!!! Merokok gitu lho!!! Merugikan kesehatan diri sendiri & orang lain…dalam Islam hukumnya paling bagus makruh, bukan halal…difasilitasi??? Koq ibu2x yg memperjuangkan kelangsungan hidup anaknya, menjalankan fungsi utamanya, yg dlm Al Qur’an jelas2x diserukan, kenapa kalo pun ada fasilitasnya, cuma disediain yg a la kadarnya aja? Bukan disediain yg terbaik?

Apa krn gak ada keuntungan material/finansial yg bisa diperoleh secara langsung dari kegiatan laktasi ini? IMHO, gak juga… Misalnya kalo diantara 10 ibu yg berniat belanja ke sebuah mall ada 5 orang adalah ibu menyusui & di mall gak ada fasilitas ruang menyusui, mall udah keilangan 50% potential customernya. Bayangin apa yg bisa di-spent ibu2x tsb di mall…Baju/perlengkapan ibu & bayi, toilettries ibu & bayi, popok, pernak-pernik kamar/rumah, buku2x, sayur-buah-snacks, dst. See??? Gimana kalo angkanya lebih gede lagi??? Kalo ibu2x yg gak jadi belanja itu cuma titip sama suami, adik, pembantu, ato supir, yg dibeli pasti ‘cuma’ titipan si ibu. Bayangin potential loss yg diderita mall. Ini kalo mau dgn sadisnya melihat ibu menyusui sbg komoditas ya…

Despite of it all, emangnya ibu menyusui gak berhak having a break dgn sekali2x jalan2x ato ketemuan sm temen2x di mall (di Jkt getu lhooo, mo kemana lagi?!) By having a break, kondisi psikis ibu bisa membaik. Kalo ibu2x menyusui ini senang & tenang, produksi hormon oksitosinnya naik lho. Oksitosin ini kan mendukung kesuksesan produksi ASI. Dgn supporting menyusui, salah satunya dgn menyediakan fasilitas ruang menyusui, bukannya gak mungkin angka kesuksesan ASI eksklusif di Indonesia naik (kata Prof. Rulina di web-nya DepKes, statistiknya kurang dari 2%!!!). Domino effect lho akhirnya…ya ke angka harapan hidup, ke kualitas kesehatan & intelegensia generasi penerus, dst.

Well…cuma uneg2x di ujung hari, setelah puyeng mikirin valve utk corrosive sea water & lo pressure flare tips… Moga2x aja ada teman senasib, jadi bisa sama2x berjuang… :)

Proses UHT: Upaya Penyelamatan Gizi pada Susu

Proses UHT: Upaya Penyelamatan Gizi Pada Susu
WASPADA Online
Oleh : Prof Dr Ir Made Astawan MS

Dokter Anak menganjurkan untuk menunggu hingga anak Anda berumur 12 bulan baru boleh untuk memberinya susu sapi murni. Karena pencernaan bayi belum begitu kuat untuk mengolahnya. Pertama-tama, susu sapi murni tidak memenuhi vitamin dan ion yang cukup untuk pertumbuhan anak Anda pada usia dini (di bawah 1 tahun). Kedua, memperkenalkan susu sapi murni secara dini kepada bayi Anda akan menyebabkan alergi atau iritasi pada isi perut bayi Anda, seperti kata Debby Demory-Luce, R.D., instruktur di Balai Penelitian Nutrisi dan Kesehatan Bayi, Houston, Amerika Serikat.

Susu merupakan sumber gizi terbaik bagi mamalia yang baru dilahirkan. Susu
disebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena kandungan zat gizinya yang lengkap. Selain air, susu mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral,
enzim-enzim, gas serta vitamin A, C dan D dalam jumlah memadai. Manfaat susu
merupakan hasil dari interaksi molekul-molekul yang terkandung di dalamnya.

Susu segar merupakan cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih
yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar yang kandungan alaminya tidak
dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun (SNI 01-3141-1998).
Dalam prakteknya sangat kecil peluang kita untuk mengonsumsi susu segar definisi SNI tersebut di atas. Umumnya susu yang dikonsumsi masyarakat adalah susu olahan baik dalam bentuk cair (susu pasteurisasi, susu UHT) maupun susu bubuk.

Proses Pasteurisasi

Susu pasteurisasi merupakan susu yang diberi perlakuan panas sekitar 63-72
derjat Celcius selama 15 detik yang bertujuan untuk membunuh bakteri patogen.
Susu pasteurisasi harus disimpan pada suhu rendah (5-6 derjat Celcius) dan
memiliki umur simpan hanya sekitar 14 hari.

Proses Susu Bubuk

Susu bubuk berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat
lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan
dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer. Umur simpan susu
bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk powder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder) (SNI 01-2970-1999).

Proses Susu UHT

Susu UHT (ultra high temperature) merupakan susu yang diolah menggunakan
pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145 derjat
Celcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan dengan suhu tinggi
bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya, sehingga memiliki mutu yang sangat baik.

Secara keseluruhan faktor utama penentu mutu susu UHT adalah bahan baku,
proses pengolahan dan pengemasannya.
Bahan baku susu UHT cair segar adalah susu segar yang memiliki mutu tinggi terutama dalam komposisi gizi. Hal ini didukung oleh perlakuan prapanen hingga pasca panen yang terintegrasi.

Pakan sapi harus diatur agar bermutu baik dan mengandung zat-zat gizi yang
memadai, bebas dari antibiotika dan bahan-bahan toksis lainnya. Dengan demikian, sapi perah akan menghasilkan susu dengan komposisi gizi yang baik.
Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara pemerahan yang benar termasuk di dalamnya adalah pencegahan kontaminasi fisik dan mikrobiologis dengan sanitasi alat pemerah dan sanitasi pekerja.

Susu segar yang baru diperah harus diberi perlakuan dingin termasuk transportasi susu menuju pabrik. Pengolahan di pabrik untuk mengkonversi susu segar menjadi susu UHT juga harus dilakukan dengan sanitasi yang maksimum yaitu dengan menggunakan alat-alat yang steril dan meminimumkan kontak dengan tangan.
Seluruh proses dilakukan secara aseptik.

Susu UHT dikemas secara higienis dengan menggunakan kemasan aseptik multilapis berteknologi canggih. Kemasan multilapis ini kedap udara sehingga bakteri pun tak dapat masuk ke dalamnya. Karena bebas bakteri perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk dikonsumsi.

Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya
ultra violet tak akan mampu menembusnya dengan terlindungnya dari sinar ultra
violet maka kesegaran susu UHT pun akan tetap terjaga. Setiap kemasan aseptic
multilapis susu UHT disterilisasi satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu. Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar kesehatan internasional.

Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptic multilapis menjamin susu UHT bebas bakteri dan tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah diproduksi.

Keunggulan Susu UHT
Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang pada suhu
kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin.
Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah.

Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau pengolahan menjadi
susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya terutama
vitamin dan protein.

Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein. Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan protein pada pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk. Reaksi pencoklatan tersebut menyebabkan menurunnya daya cerna protein.

Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Tubuh manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L. Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino di dalam tubuh. Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu. Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2 persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.

Tips Penggunaan Susu UHT

1. Apabila kemasan susu UHT telah dibuka, maka susu tersebut harus disimpan pada refrigerator. Susu UHT harus dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50 derjat Celcius) karena dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel akibat kerusakan protein.

2. Kerusakan susu UHT sangat mudah dideteksi secara visual, ciri utama yang umum terjadi adalah kemasan menggembung. Gembungnya kemasan terjadi akibat kebocoran kemasan yang memungkinkan mikroba-mikroba pembusuk tumbuh dan memfermentasi susu. Fermentasi susu oleh mikroba pembusuk menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan gembung.

3. Kerusakan juga ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain
menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga menghasilkan
alkohol dan asam-asam organik yang menyebabkan susu menjadi berflavor dan
beraroma masam.

4. Hindari mengkonsumsi susu UHT yang telah mengental. Fermentasi susu
oleh bakteri pembusuk juga pembusuk juga menyebabkan koagulasi dan  pemecahan protein akibat penurunan pH oleh asam-asam organik. Koagulasi dan pemecahan protein inilah yang menyebabkan tekstur susu rusak yaitu menjadi pecah dan agak kental.

5. Untuk susu yang belum habis, kami lebih disarankan untuk tetap di simpan
dikulkas, dikarenakan produk kami tidak menggunakan bahan pengawet sehingga
cukup rentan terhadap bakteri yang sangat cepat berkembang biak dalam susu
tersebut.

6. Tetapi apabila tidak memungkinkan untuk dimasukkan kedalam kulkas, sebaiknya susu disimpan dalam keadaan tertutup (rapat) dalam suhu normal tidak terlalu panas/dingin dan jangan terlalu lama didiamkan diluar.

7. Kualitas kandungan gizi pada susu yang telah dibuka dan didiamkan otomatis akan sedikit berbeda (berkurang) dibanding dengan kualitas gizi pada saat susu pertamakali dibuka, dikarena sudah ada kontaminasi dari udara luar walaupun hanya sedikit. Proses bakteri merusak susu tidak terjadi begitu saja melalui proses terlebih dahulu (ada penguraian) hal ini terjadi dalam hitungan jam sampai akhirnya susu tersebut basi (rasanya jadi asam/pahit, teksturnya menggumpal, ataupun pecah).

8. Apabila memang harus disimpan dalam suhu ruang sebaiknya tidak melebihi dari beberapa jam, kurang lebih 5-7 jam, dan itu pun tergantung dari kondisi lingkungan atau ruangan itu sendiri dan susu sebaiknya dalam keadaan tertutup.

9. Tapi jika ingin lebih memastikan dapat mencicipinya terlebih dahulu dan melihat teksturnya apabila tidak lagi sama dengan kualitas susu yang biasa Anda minum sebaiknya jangan dikonsumsi lagi.

10. Tetapi dikarenakan susu disimpan dalam kulkas sehingga pertumbuhan bakteri
dapat terhambat untuk sementara, maka kemungkinan susu akan rusak yaitu selama kurang lebih 3-5 hari, tergantung kondisi penyimpanan yang harus dingin (4C) dan kondisi kulkas yang harus baik dan juga tidak terlalu banyak makanan ataupun buah-buahan didalamnya, karena dikhawatirkan aroma dari makanan dan buah-buahan tersebut juga bisa merusak kualitas rasa/aroma dari susu tersebut.

(Thanks to Mba’ Tety Kurniati/Bunda Vasya untuk posting artikel ini di Milis Sehat)

BukBer Mt ‘93, Selasa 17 Okt 2006 (by Silvia Yulianti)

Plangi, 17/10/2006
Setelah melalui tarik ulur negosiasi njelimet melalui milis, faks dan telepon, disepakati penyelenggaraan bukber untuk Mt’93 yang memang telah bertahun-tahun vakum gak bikin acara kumpul-kumpul. Adapun yang bertindak sebagai Ketua/Sekretaris/ Bendahara/Seksi Acara/Seksi Konsumsi/Seksi Humas adalah gue (biasa bangetttssss), dengan penyelengaraan survey dilakukan bareng Karmie, sehari sebelumnya. Kami mengalami kesulitan dalam mencari tempat, karena hampir semua restoran di Plangi sudah fully booked long time ago. Akhirnya ditemukan tempat yang bersedia dibook tanpa persyaratan macem2. Acara survey kemudian dilanjutkan dengan buka puasa mini yang diwarnai oleh aktivitas sms2an ke semua yang ada di phone book hp gue (buat yang kelewatan dan ngambek berat contohnya Yana, maapppsss bangets dehhhh, gak maksudddd).
Jadilah acara bertempat di WOKU, Manado Restaurant, Plangi. Dengan berbekal semangat yang pesimistis akan jumlah peserta yang akan hadir, gue cuma book untuk 10 orang. Ternyata peserta berkembang jadi 15 orang dan fantastisnya Dscn4074 dihadiri oleh 60% perempuan metal’93 yang merupakan rekor yang luar biasa untuk sebuah acara semendadak ini (many thanks buat gerwani terutama the mommies yang sudah merelakan gak ketemu dan ngurusin anaknya sebentar demi kongkow2 dan ngocol2 sesaat).
The foods were nice, the ngobrol2 apalagi. Thanks buat Banu dan Acho yang udah bener2 bikin meriah acara. As can be seen from the pics, Dscn4075most of jejaka mengalami erosi kepala, pembuncitan perut, atau pelebaran jalan, eh badan, tetapi tampak terawat. Hal ini tidak berlaku untuk Waldo yang asli tongkrongannya tetap sama (tapi of course terawat), Banu yang berhasil nurunin berat sampe 15 kg, juga Mandra yang gak bosen-bosennya keriting.
Acara update berlangsung terus-menerus, mulai dari inget2 nama semua orang, termasuk yang sudah out di tahun2 awal kuliah (Barnald Arief, Dady Amin, Erwin Fitriansyah, Azwir Tulout, Adlin, Basa Enrico, Fajar), yang kabarnya hilang sampai mau kita pasang iklan missing in action di koran (Isti Handayani, Eko Triyudi), juga perkembangan genk-genk kerja (Gresik, Chevron). Dari herbagai info, disimpulkan bahwa kita bener2 payah dalam dunia permetalan karena mostly udah banting setir ke berbagai sektor (dari guru bhs Inggris, marketing, purchasing, NGO, sampe ibu RT).
Sebagaimana acara-acara sebelumnya, adat kita adalah susah dikumpulin tapi juga susah dibubarin. Setelah kurang lebih 2,5 jam mengacak2 restoran kecil ini, dan dengan kesadaran umur dan tanggungannya masing2, dengan berat hati kita Dscn4080membubarkan diri, diakhiri dengan foto bareng minta tolong mbak penjaga lapak di depan restoran. Ada permintaan untuk berkumpul lagi, akhirnya disepakati kita akan memakai modus dadakan lagi ajah, karena more planning creates more cancelling.
Yang pasti sih, janjian kita untuk kumpul di Gazebo metal hari Sabtu, tanggal 6 September 2008, tetap berlaku, untuk memperingati 15 tahun kita jadian.
Demikianlah laporan ini disampaikan. Thanks all for that beautiful moment.
Love,
pepi van de depok

Lebih Baik Mengkonsumsi Susu Segar

Lebih baik mengkonsumsi susu segar

(http://www.keluargasehat.com/pola-konsumsiisi.php?news_id=199)

Orang Indonesia lebih mengenal susu bubuk padahal proses pengolahan susu bubuk- melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama-sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi, terutama vitamin dan protein. Orang Indonesia lebih mengenal susu bubuk padahal proses pengolahan susu bubuk- melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama-sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi, terutama vitamin dan protein.

Oleh karena itu masyarakat di negara maju sekarang lebih memilih susu segar. Susu disebut-sebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim-enzim, gas serta vitamin. Bisa dikatakan kandungan yang ada pada susu hewan mamalia khususnya sapi hampir mencukupi seluruh kebutuhan tubuh manusia. Pasalnya jumlah kandungan zat-zat tersebut begitu mamadai.

Tentu kandungan zat-zat secara utuh itu ada pada susu segar. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) susu segar itu merupakan cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih yang diperoleh dari cara pemerahan yang benar serta kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah suatu apapun dan belum mendapat perlakuan apa pun.

Namun dalam praktiknya, menurut Prof. Made Astawan, pakar teknologi pangan dan gizi Fakultas Teknologi Pertanian IPB, untuk mendapatkan susu sesuai definisi SNI tidak mudah. Apalagi di kalangan masyarakat kita cenderung lebih familiar dengan produk susu olahan baik bentuk cair maupun padat. Itu pun tingkat konsumsinya masih relatif rendah. "Bandingkan saja dengan India, tingkat konsumsi susunya jauh lebih tinggi yakni mencapai 43.929,2 juta liter susu cair per tahun dan 1.173 juta liter susu bubuk per tahun," kata Astawan pada presentasi pentingnya mengonsumi susu cair di pabrik Ultrajaya Tbk belum lama ini.

Sejumlah riset pada 2004 melaporkan konsumsi susu di Indonesia baru mencapai tujuh liter per kapita per tahun atau baru 197, 5 juta liter per tahun untuk susu cair dan 625,7 juta liter susu bubuk. Dari data itu pun terlihat bahwa komsumsi susu bubuk di Indonesia sangat tinggi dibanding susu cair. Padahal kalau mau menilik lebih jauh masyarakat negeri maju seperti Amerika sudah banyak yang meninggalkan konsumsi susu bubuk dan beralih ke susu cair. Riset Canadian 2004 melaporkan konsumsi susu penduduk Amerika sudah mencapai 100 liter per kapita per tahun atau 24.634,7 juta liter susu cair per tahun dan 59,5 juta liter susu bubuk per tahun. Begitu pula Australia yang sudah mencapai 90 liter perkapita per tahun. Sementara China 11.256 juta liter per tahun.

Memang susu bubuk itu sendiri asalnya juga dari susu segar atau rekombinasi dengan zat lain seperti lemak, dan protein yang dikeringkan. Namun proses pengolahan susu bubuk yang umumnya melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi terutama vitamin dan protein. Menurut Astawan kerusakan protein bisa berupa terbentuknya pigmen coklat (melonodin) akibat reaksi Maillard. Reaksi ini biasanya terlihat pada pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula danprotein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung cukup lama. Pemanasan seperti ini dapat menyebabkan penurunan daya cerna protein. Pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino, yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Padahal tubuh manusia hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.

Karena itulah banyak ahli gizi dunia yang menyarankan agar kembali mengkonsumsi susu secara alamiah atau susu segar. Hanya sayangnya susu segar yang diperoleh dari pemerahan sapi tidak tahan lama. Rata-rata dalam waktu enam jam kondisi susu akan rusak karena kontiminasi dengan udara yang memudahnya munculnya bakteri pembusuk.

"Namun sekarang ini masyarakat dunia tidak perlu khawatir karena sudah banyak industri pengolahan susu dengan menggunakan teknologi tertentu seperti UHT dan pasteurisasi yang memproduksi susu segar," ujar Astawan. Setidaknya dengan proses pengolahan susu segar seperti itu, kata dia, dapat meminimalisasi kerusakan gizi yang terkandung di dalam bahan baku susu bersangkutan.

Pasteurisasi
Pengolahan susu secara pasteurisasi itu biasanya dengan memberi perlakuan panas sekitar 63-72 derajat Celcius selama 15 detik. Tujuannya membunuh bakteri patogen.

Jika Anda penggemar susu ini mesti konsisten dalam penyimpanannya. Susu hasil pasteurisasi ini hanya memiliki umur simpan sekitar 14 hari dan harus disimpan pada susu rendah (5-7 derajat celcius).

Untuk susu UHT (ultra high temperature), pengolahan susu segar ini menggunakan pemanasan suhu tinggi (135-145 derajat celcius) dalam waktu yang relatif singkat (2-5 detik). Porses pemasanan seperti itu selain dapat membunuh seluruh mikroorganisme (bakteri pembusuk maupun patogen) dan spora (jamur) juga untuk mencegah kerusakan nilai gizi. Bahkan dengan proses UHT, warna, aroma dan rasa relatif tidak berubah dari aslinya sebagai susu segar.

Di Indonesia sendiri meski belum sesemarak India dan Vietnam namun sejak 1975-an susu segar proses UHT sudah banyak dijumpai di pasaran. Salah satunya adalah PT Ultrajaya Milk Industry Tbk. dengan kapasitas terpasang 100 juta liter per tahun.

"Produksi susu ini 100% dari bahan baku susu segar yang diperoleh dari peternak susu di Jawa Barat. Mereka tergabung dalam satu wadah koperasi," ujar M. Muhthasawwar, senior marketing manager PT Ultrajaya Milk Industry Tbk.

Perjalanan dari koperasi ke pabrik hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam sehingga tingkat kesegaranya masih tetap terjaga. Begitu sampai di pabrik langsung diolah dengan menggunakan teknologi sterilisasi UHT.

Teknologi dengan sistem komputer dan robot siap memanaskan susu selama empat detik dengan suhu 140 derajat Celcius. Pemanasan yang tinggi dan singkat hanya untuk mematikan semua bakteri tanpa merusak kesegaran dan kualitas gizi susu segarnya.

Setelah itu susu dikemas dalam kemasan aseptik yakni menggunakan kemasan multilapis terdiri dari kertas, plastik, polyethylene dan aluminium foil agar kedap udara dan cahaya. Kemasan tersebut mampu melindungi kualitas susu segar dari pengaruh sinar ultraviolet hingga 10 bulan.

Dengan begitu susu cair UHT tanpa bahan pengawet ini bisa bertahan lama setidaknya sampai enam bulan, dengan catatan kemasanya masih utuh tidak cacat. Selain itu susu ini juga bisa dikonsumsi orang dewasa maupun anak-anak usia satu tahun ke atas.
(idionline)

"…di atas 1 tahun, susu BUKAN lagi makanan utama bagi anak. Susu hanyalah sebagai salah satu sumber kalsium. Jadi … ya makan sehat seimbang sesuai piramida makanan … sumber kalsiumnya kan banyak …Kita kan sudah sangat paham bahwa susu untuk di atas 1 tahun cukup fresh milk biasa … gak usah yang mahal2…"

(Dr. Purnamawati, SpAK, MMPed)

Duta ASI (Republika: Jum’at 01 September 2006)

Duta ASI

Republika: Jumat, 01 September 2006

”Terima kasih, Bu.”

Ucapan itu yang saya sampaikan saat berjabat tangan dengan Ibu Ani Yudhoyono di Istana Negara, Senin (28/8) lalu. Hari itu peringatan Bulan ASI (Air Susu Ibu) se-Dunia tengah dilangsungkan. Seluruh penggiat gerakan ASI –masyarakat, lembaga negara, bahkan lembaga dunia seperi UNICEF– hadir di

sana

. Saat itulah Ibu Negara dikukuhkan sebagai Duta ASI, figur publik yang menjadi ikon pendorong penggunaan ASI sebagai satu-satunya makanan bayi berusia sampai enam bulan.

Saya terlibat dalam gerakan ini sejak awal 1990-an. Gerakan ini lahir sebagai bagian dari gerakan konsumen dunia. Tujuannya agar masyarakat selalu mendapat hal yang tersehat, terbaik, dan termurah bagi dirinya. Masyarakat tak selalu mendapat kesempatan itu. Masyarakat sering terjajah oleh kepentingan dunia industri. Kepentingan yang dikemas sedemikian canggih hingga mengelabui publik. Mata publik dibikin terhalang untuk mampu melihat alternatif yang lebih baik. Untuk itu perlu penyadaran dengan membuka informasi sejelas-jelasnya hingga setiap orang dapat memilih sendiri apa yang terbaik bagi dirinya.


Kemampuan dunia industri untuk memengaruhi publik begitu luar biasa. Industri mampu mendikte apa yang kita butuhkan dan tidak kita butuhkan. Faktor gengsi sering dimainkan. Gengsi menjadi lebih penting ketimbang fungsi. Itu yang menjelaskan mengapa hampir semua pejabat, atau orang yang merasa penting lain di negeri ini, malu kalau tak menggunakan telepon genggam Communicator, dengan memanfaatkan hanya sebagian kecil fungsinya. Orang bijak akan selalu mementingkan fungsi dibanding gengsi. Bangsa besar juga akan selalu bersikap begitu.


Pendekatan serupa ditempuh kalangan industri susu formula. Dengan cerdik mereka membangun opini publik bahwa seolah susu formula bisa menggantikan ASI. Seolah susu formula lebih praktis, dan juga lebih keren dan bergengsi. Mereka menunggangi gelombang modernisasi yang menampik segala yang berbau tradisional. Dengan cara itu, susu formula segera menghabisi praktik menyusui dengan ASI di masyarakat Barat. Menyusui segera dianggap kuno.

Sukses di Barat, mereka ingin menaklukkan Timur. Berbagai mitos yang dapat menggusur ASI dengan susu formula terus dirancang. Kalangan feminis garis keras menyebut, menyusui atau tidak adalah hak perempuan. Yang benar, ASI adalah hak asasi bayi. Tidak memberikannya adalah melanggar hak asasi itu. Maka, kalau tak mau menyusui dengan ASI, jangan pernah punya anak.


Mitos lainnya adalah bahwa menyusui akan merusak keindahan payudara. Padahal, yang mengubah bentuk tubuh adalah kehamilan. Kalau tak ingin bentuk tubuh berubah, jangan hamil. Kalangan ‘modernis’ pun berkeras dengan anggapan bahwa susu formula adalah modern, dan ASI kuno. Banyak orang terbeli oleh cara pandang seperti itu.


Syukurlah banyak pula yang tetap dapat berpikir sehat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang tahu persis dampak susu formula pun menegaskan bahwa ASI adalah satu-satunya makanan bagi bayi. ASI memberi imunitas, menjaga kecerdasan, menumbuhkan kejiwaan secara penuh bagi anak. ASI juga tak membuat keluarga maupun negara kehilangan ‘devisa’. Itu yang membuat ASI tak tergantikan, dan terus didukung oleh WHO maupun UNICEF. Itu yang menjelaskan mengapa agama mengharuskan ASI diberikan sampai bayi setidaknya berumur dua tahun. Begitu banyak ayat Alquran seperti

surat

Al-Baqarah 233,  Surat Qashash 7 dan 12, juga

surat

Lukman 14. Penegasan Allah SWT semestinya cukup meyakinkan kita bahwa ASI adalah masalah syariah. ASI harus menjadi perhatian yang sama serius dengan urusan kehalalan makanan dan bunga perbankan.


Perjuangan ke arah itu bukan hal mudah. Kuatnya arus modernisme, dan menguatnya bisnis kesehatan telah sedemikian menyudutkan ASI. Untuk kepentingannya, kalangan medis telah mengarahkan masalah persalinan dari proses alami menjadi seolah proses medis. Tentu saja mereka pro-susu formula. Baru belakangan kecenderungan tersebut mulai berubah. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) semakin menunjukkan pembelaannya pada ASI tanpa terganggu oleh iming-iming uang sponsor dari produsen susu formula. Selain itu, semakin banyak pula artis dan figur publik yang memilih menjauhi

gaya

hidup modernis yang cenderung norak dan sok. Mereka lebih memilih sikap hidup holistik yang lebih alami.

Kecenderungan baru itu merupakan momentum yang baik bagi gerakan kembali pada ASI. Momentum inipun mendapat energi yang sangat besar saat Ibu Ani bersedia menjadi Duta ASI. Ibu Ani sudah membuktikan. Kedua bayi yang dilahirkan dan disusuinya sendiri dengan ASI telah tumbuh sebagai pribadi sempurna sesuai yang diharapkannya. Dengan Ibu Ani menjadi Duta ASI, semoga seluruh bayi berusia 0-6 bulan di negeri ini akan makan/minum HANYA ASI. Bukan yang lain. Dengan demikian generasi

Indonesia

baru akan dapat segera dilahirkan di negeri ini. Yakni, generasi yang benar-benar sehat, cerdas, tangguh, dan tentu saja bermoral kuat.

(Zaim Uchrowi )

ASI vs Susu Formula

Komposisi ASI yang unik dan spesifik tak mungkin bisa diimbangi oleh susu formula.

Apa saja sih keunggulannya?

Asal Anda tahu, setiap air susu mamalia (makhluk/binatang yang menyusui anaknya), spesifik untuk masing-masing spesiesnya. Jadi ASI manusia ya paling cocok untuk bayi manusia. Jadi, sungguh sayang bila bayi Anda tidak mendapat ASI. Untuk lebih meyakinkan, berikut beberapa keunggulan ASI dibanding susu formula.

• Sumber gizi sempurna
ASI: Mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Antara lain, faktor pembentuk sel-sel otak, terutama DHA, dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak daripada casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan) dengan perbandingan 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap oleh tubuh bayi.

Susu formula: Tidak seluruh zat gizi yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi. Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey : casein susu sapi adalah 20:80.

• Mudah dicerna
ASI: Pembentukan enzim pencernaan bayi baru sempurna pada usia kurang lebih 5 bulan. ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan, antara lain lipase (untuk menguraikan lemak), amilase (untuk menguraikan karbohidrat) , dan protease (untuk menguraikan protein). Sisa metabolisme yang akan diekskresikan (dikeluarkan) melalui ginjal pun hanya sedikit, sehingga kerja ginjal si kecil menjadi lebih ringan. Asal tahu saja, metabolisme ini penting karena merupakan proses pembakaran zat-zat di dalam tubuh menjadi enerji, sel-sel baru, dan lain-lain.

Susu formula: Sulit dicerna karena tidak mengandung enzim perncernaan. Perlu diketahui, serangkaian proses produksi di pabrik mengakibatkan enzim-enzim pencernaan tidak berfungsi. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme, yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras.

• Komposisi sesuai kebutuhan
ASI: Komposisi zat gizi ASI sejak hari pertama menyusui biasanya berubah dari hari ke hari. Perubahan komposisi ASI ini terjadi dalam rangka menyesuaikan diri dengan kebutuhan gizi bayi. Misalnya, kolostrum (cairan bening berwarna kekuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran sampai kira-kira seminggu sesudahnya) terbukti mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI mature (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum yang seperti ini akan membantu sistem pencernaan bayi baru lahir yang memang belum berfungsi optimal.
Selain itu, komposisi ASI pada saat mulai menyusui (fore milk) berbeda dengan komposisi pada akhir menyusui (hind milk). Kandungan protein fore milk (berwarna bening dan encer) tinggi, tetapi kandungan lemaknya rendah bila dibandingkan hind milk (berwarna putih dan kental).
Walau tampak sehat, pertambahan berat badan bayi yang hanya mendapat fore milk kurang baik. Makanya, jangan terlalu cepat memindahkan bayi untuk menyusu pada payudara yang lain, bila ASI pada payudara yang sedang diisapnya belum habis. ASI ibu yang melahirkan bayi prematur juga sesuai dengan kebutuhan bayinya. Antara lain, kandungan proteinnya lebih tinggi dan lebih mudah diserap.
Susu formula: Komposisi zat gizinya selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai).

• Mengandung zat pelindung
ASI: Mengandung banyak zat pelindung, antara lain imunoglobulin dan sel-sel darah putih hidup, yang perlu untuk membantu kekebalan tubuh bayi. Selain itu, ASI mengandung zat yang tidak terdapat dalam susu sapi, dan tidak dapat dibuat duplikasi atau tiruannya dalam susu formula, yaitu faktor bifidus. Zat ini penting untuk merangsang pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus yang membantu melindungi usus bayi dari peradangan atau penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi beberapa jenis bakteri merugikan, seperti keluarga coli .
Susu formula: Hanya sedikit mengandung imunoglobulin, dan sebagian besar merupakan jenis yang "salah" (tidak dibutuhkan oleh tubuh bayi). Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup

• Cita rasa bervariasi
ASI: Cita rasa ASI bervariasi sesuai dengan jenis senyawa atau zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu.

Susu formula: Bercita rasa sama dari waktu ke waktu.

Dewi Handajani
Konsultasi ilmiah: Prof. dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Divisi Perinatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Foto: Dok. Ayahbunda

http://www.ayahbunda-online. com/info_ ayahbunda/ info_detail. asp?id=

Aila, the BatBaby ;P

Gw & Aa’ ikutan milis Sahabat Museum udah sejak kami baru nikah. Pertama kenal Adep dr Donna, waktu ikutan Plesiran Tempo Doeloe Pecinan/China Town. Merasa cocok dgn komunitas Sahabat Museum (BatMus), Aa’ subscribe jadi member (sayang, sebulan terakhir ini kantor Aa’ bikin policy utk nge-banned segala bentuk mailing list). Untung di kantor gw gak. Jadi gw masih bisa secara pasif mengikuti ‘perkembangan dunia persilatan’.Naik_sado_koeliling_menteng

Aila sendiri ‘kenal’ PTD & BatMus sejak dia masih di dalam kandungan gw. Bayangin aja, hamil 5  ato 6 bln gw ikut PTD yg jalan2x sampe ke Jembatan Kota Intan segala (itu kalo gak memperhitungkan beberapa bulan sebelumnya, waktu gw belum sadar kalo gw udah hamil, ikut PTD yg menyusuri Pecinan di daerah Hayam Wuruk). Puncaknya seminggu persis sebelum melahirkan Aila, gw ikutan acara BatMus Naik Sado Koeliling Menteng (NSKM). Gimana gak seru, kami naik sado yg rodanya ampir patah! Hi3x :D

Kemaren neh, Boss Adep nawarin item baru…Kaos PTD!!! Gw & Aa’ seneng bgt, mengingat kaos BatMus sebelumnya (Beos) begitu unik & apik. So, kami putuskan utk memesan sepasang & minta dikirim ke kantor gw (yg kata Aa’ msh di tengah2x peradaban manusia…dibandingin sm kantornya :D). Gak tau gimana, si Boss lagi riweuh kali ya nyiapin keberangkatannya ke Amrik, kaos kami nyasaaarrr ke Borneo sono. Hiks! :’( Tapi untunglah ada kloter 2, jadi masih ada harapan kami punya kaos PTD merah gonjreng tadi. Iseng2x gw tulis gini ke Bang Adep "Buat kompensasi (kaos salah kirim) boleh dong ditjitakin kaos PTD ukuran 2T. Namanya juga usaha… :D". You know what??? Saat gw terima paket dr Ade Hardika Purnama, isinya gak cuma 2 pcs kaos ukuran dewasa, tapi…ADA 1 KAOS EXTRA UKURAN TODDLER DGN STICKER BERTULISKAN AILA DI PLASTIKNYA!!! Ooohhh…How sweet:) Dscn3806

Dscn3798 Sore itu, sesampainya gw di rumah Aila gw minta nyobain kaos barunya. She  seemed so proud to wear it! Gw kabarin Bang Adep ttg ini, sekalian say "Thank’s" for such a sweet attention. Si abang minta foto2xnya Aila in PTD shirt, katanya sih bakal dijadiin model kaos BatBaby. He3x :D The very next day, gw kirimin foto2x ini ke Bang Adep. I hope he already received them, since I heard nothing from him… :(

Dscn4005 Anyway…kaos PTD ini kami pake waktu kami jalan2x di Dscn4014KLCC/Petronas Towers,  di KL kemaren. We just want to re-unite the symbol of heritage lover community and the icon of advanced technology… I think both of them can walk side-by-side in such a sweet harmony… :) Thank’s ya, Bang Adep…