Duta ASI (Republika: Jum’at 01 September 2006)
Duta ASI
Republika: Jumat, 01 September 2006
”Terima kasih, Bu.” Ucapan itu yang saya sampaikan saat berjabat tangan dengan Ibu Ani Yudhoyono di Istana Negara, Senin (28/8) lalu. Hari itu peringatan Bulan ASI (Air Susu Ibu) se-Dunia tengah dilangsungkan. Seluruh penggiat gerakan ASI –masyarakat, lembaga negara, bahkan lembaga dunia seperi UNICEF– hadir di
sana . Saat itulah Ibu Negara dikukuhkan sebagai Duta ASI, figur publik yang menjadi ikon pendorong penggunaan ASI sebagai satu-satunya makanan bayi berusia sampai enam bulan. Saya terlibat dalam gerakan ini sejak awal 1990-an. Gerakan ini lahir sebagai bagian dari gerakan konsumen dunia. Tujuannya agar masyarakat selalu mendapat hal yang tersehat, terbaik, dan termurah bagi dirinya. Masyarakat tak selalu mendapat kesempatan itu. Masyarakat sering terjajah oleh kepentingan dunia industri. Kepentingan yang dikemas sedemikian canggih hingga mengelabui publik. Mata publik dibikin terhalang untuk mampu melihat alternatif yang lebih baik. Untuk itu perlu penyadaran dengan membuka informasi sejelas-jelasnya hingga setiap orang dapat memilih sendiri apa yang terbaik bagi dirinya.
Kemampuan dunia industri untuk memengaruhi publik begitu luar biasa. Industri mampu mendikte apa yang kita butuhkan dan tidak kita butuhkan. Faktor gengsi sering dimainkan. Gengsi menjadi lebih penting ketimbang fungsi. Itu yang menjelaskan mengapa hampir semua pejabat, atau orang yang merasa penting lain di negeri ini, malu kalau tak menggunakan telepon genggam Communicator, dengan memanfaatkan hanya sebagian kecil fungsinya. Orang bijak akan selalu mementingkan fungsi dibanding gengsi. Bangsa besar juga akan selalu bersikap begitu.
Pendekatan serupa ditempuh kalangan industri susu formula. Dengan cerdik mereka membangun opini publik bahwa seolah susu formula bisa menggantikan ASI. Seolah susu formula lebih praktis, dan juga lebih keren dan bergengsi. Mereka menunggangi gelombang modernisasi yang menampik segala yang berbau tradisional. Dengan cara itu, susu formula segera menghabisi praktik menyusui dengan ASI di masyarakat Barat. Menyusui segera dianggap kuno.
Sukses di Barat, mereka ingin menaklukkan Timur. Berbagai mitos yang dapat menggusur ASI dengan susu formula terus dirancang. Kalangan feminis garis keras menyebut, menyusui atau tidak adalah hak perempuan. Yang benar, ASI adalah hak asasi bayi. Tidak memberikannya adalah melanggar hak asasi itu. Maka, kalau tak mau menyusui dengan ASI, jangan pernah punya anak.
Mitos lainnya adalah bahwa menyusui akan merusak keindahan payudara. Padahal, yang mengubah bentuk tubuh adalah kehamilan. Kalau tak ingin bentuk tubuh berubah, jangan hamil. Kalangan ‘modernis’ pun berkeras dengan anggapan bahwa susu formula adalah modern, dan ASI kuno. Banyak orang terbeli oleh cara pandang seperti itu.
surat Al-Baqarah 233, Surat Qashash 7 dan 12, juga
surat Lukman 14
Syukurlah banyak pula yang tetap dapat berpikir sehat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang tahu persis dampak susu formula pun menegaskan bahwa ASI adalah satu-satunya makanan bagi bayi. ASI memberi imunitas, menjaga kecerdasan, menumbuhkan kejiwaan secara penuh bagi anak. ASI juga tak membuat keluarga maupun negara kehilangan ‘devisa’. Itu yang membuat ASI tak tergantikan, dan terus didukung oleh WHO maupun UNICEF. Itu yang menjelaskan mengapa agama mengharuskan ASI diberikan sampai bayi setidaknya berumur dua tahun. Begitu banyak ayat Alquran seperti
gaya hidup modernis yang cenderung norak dan sok. Mereka lebih memilih sikap hidup holistik yang lebih alami. Kecenderungan baru itu merupakan momentum yang baik bagi gerakan kembali pada ASI. Momentum inipun mendapat energi yang sangat besar saat Ibu Ani bersedia menjadi Duta ASI. Ibu Ani sudah membuktikan. Kedua bayi yang dilahirkan dan disusuinya sendiri dengan ASI telah tumbuh sebagai pribadi sempurna sesuai yang diharapkannya. Dengan Ibu Ani menjadi Duta ASI, semoga seluruh bayi berusia 0-6 bulan di negeri ini akan makan/minum HANYA ASI. Bukan yang lain. Dengan demikian generasi
Indonesia baru akan dapat segera dilahirkan di negeri ini. Yakni, generasi yang benar-benar sehat, cerdas, tangguh, dan tentu saja bermoral kuat.
Perjuangan ke arah itu bukan hal mudah. Kuatnya arus modernisme, dan menguatnya bisnis kesehatan telah sedemikian menyudutkan ASI. Untuk kepentingannya, kalangan medis telah mengarahkan masalah persalinan dari proses alami menjadi seolah proses medis. Tentu saja mereka pro-susu formula. Baru belakangan kecenderungan tersebut mulai berubah. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) semakin menunjukkan pembelaannya pada ASI tanpa terganggu oleh iming-iming uang sponsor dari produsen susu formula. Selain itu, semakin banyak pula artis dan figur publik yang memilih menjauhi
(Zaim Uchrowi )