Archive for October 17, 2006

BukBer Mt ‘93, Selasa 17 Okt 2006 (by Silvia Yulianti)

Plangi, 17/10/2006
Setelah melalui tarik ulur negosiasi njelimet melalui milis, faks dan telepon, disepakati penyelenggaraan bukber untuk Mt’93 yang memang telah bertahun-tahun vakum gak bikin acara kumpul-kumpul. Adapun yang bertindak sebagai Ketua/Sekretaris/ Bendahara/Seksi Acara/Seksi Konsumsi/Seksi Humas adalah gue (biasa bangetttssss), dengan penyelengaraan survey dilakukan bareng Karmie, sehari sebelumnya. Kami mengalami kesulitan dalam mencari tempat, karena hampir semua restoran di Plangi sudah fully booked long time ago. Akhirnya ditemukan tempat yang bersedia dibook tanpa persyaratan macem2. Acara survey kemudian dilanjutkan dengan buka puasa mini yang diwarnai oleh aktivitas sms2an ke semua yang ada di phone book hp gue (buat yang kelewatan dan ngambek berat contohnya Yana, maapppsss bangets dehhhh, gak maksudddd).
Jadilah acara bertempat di WOKU, Manado Restaurant, Plangi. Dengan berbekal semangat yang pesimistis akan jumlah peserta yang akan hadir, gue cuma book untuk 10 orang. Ternyata peserta berkembang jadi 15 orang dan fantastisnya Dscn4074 dihadiri oleh 60% perempuan metal’93 yang merupakan rekor yang luar biasa untuk sebuah acara semendadak ini (many thanks buat gerwani terutama the mommies yang sudah merelakan gak ketemu dan ngurusin anaknya sebentar demi kongkow2 dan ngocol2 sesaat).
The foods were nice, the ngobrol2 apalagi. Thanks buat Banu dan Acho yang udah bener2 bikin meriah acara. As can be seen from the pics, Dscn4075most of jejaka mengalami erosi kepala, pembuncitan perut, atau pelebaran jalan, eh badan, tetapi tampak terawat. Hal ini tidak berlaku untuk Waldo yang asli tongkrongannya tetap sama (tapi of course terawat), Banu yang berhasil nurunin berat sampe 15 kg, juga Mandra yang gak bosen-bosennya keriting.
Acara update berlangsung terus-menerus, mulai dari inget2 nama semua orang, termasuk yang sudah out di tahun2 awal kuliah (Barnald Arief, Dady Amin, Erwin Fitriansyah, Azwir Tulout, Adlin, Basa Enrico, Fajar), yang kabarnya hilang sampai mau kita pasang iklan missing in action di koran (Isti Handayani, Eko Triyudi), juga perkembangan genk-genk kerja (Gresik, Chevron). Dari herbagai info, disimpulkan bahwa kita bener2 payah dalam dunia permetalan karena mostly udah banting setir ke berbagai sektor (dari guru bhs Inggris, marketing, purchasing, NGO, sampe ibu RT).
Sebagaimana acara-acara sebelumnya, adat kita adalah susah dikumpulin tapi juga susah dibubarin. Setelah kurang lebih 2,5 jam mengacak2 restoran kecil ini, dan dengan kesadaran umur dan tanggungannya masing2, dengan berat hati kita Dscn4080membubarkan diri, diakhiri dengan foto bareng minta tolong mbak penjaga lapak di depan restoran. Ada permintaan untuk berkumpul lagi, akhirnya disepakati kita akan memakai modus dadakan lagi ajah, karena more planning creates more cancelling.
Yang pasti sih, janjian kita untuk kumpul di Gazebo metal hari Sabtu, tanggal 6 September 2008, tetap berlaku, untuk memperingati 15 tahun kita jadian.
Demikianlah laporan ini disampaikan. Thanks all for that beautiful moment.
Love,
pepi van de depok

Lebih Baik Mengkonsumsi Susu Segar

Lebih baik mengkonsumsi susu segar

(http://www.keluargasehat.com/pola-konsumsiisi.php?news_id=199)

Orang Indonesia lebih mengenal susu bubuk padahal proses pengolahan susu bubuk- melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama-sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi, terutama vitamin dan protein. Orang Indonesia lebih mengenal susu bubuk padahal proses pengolahan susu bubuk- melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama-sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi, terutama vitamin dan protein.

Oleh karena itu masyarakat di negara maju sekarang lebih memilih susu segar. Susu disebut-sebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim-enzim, gas serta vitamin. Bisa dikatakan kandungan yang ada pada susu hewan mamalia khususnya sapi hampir mencukupi seluruh kebutuhan tubuh manusia. Pasalnya jumlah kandungan zat-zat tersebut begitu mamadai.

Tentu kandungan zat-zat secara utuh itu ada pada susu segar. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) susu segar itu merupakan cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih yang diperoleh dari cara pemerahan yang benar serta kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah suatu apapun dan belum mendapat perlakuan apa pun.

Namun dalam praktiknya, menurut Prof. Made Astawan, pakar teknologi pangan dan gizi Fakultas Teknologi Pertanian IPB, untuk mendapatkan susu sesuai definisi SNI tidak mudah. Apalagi di kalangan masyarakat kita cenderung lebih familiar dengan produk susu olahan baik bentuk cair maupun padat. Itu pun tingkat konsumsinya masih relatif rendah. "Bandingkan saja dengan India, tingkat konsumsi susunya jauh lebih tinggi yakni mencapai 43.929,2 juta liter susu cair per tahun dan 1.173 juta liter susu bubuk per tahun," kata Astawan pada presentasi pentingnya mengonsumi susu cair di pabrik Ultrajaya Tbk belum lama ini.

Sejumlah riset pada 2004 melaporkan konsumsi susu di Indonesia baru mencapai tujuh liter per kapita per tahun atau baru 197, 5 juta liter per tahun untuk susu cair dan 625,7 juta liter susu bubuk. Dari data itu pun terlihat bahwa komsumsi susu bubuk di Indonesia sangat tinggi dibanding susu cair. Padahal kalau mau menilik lebih jauh masyarakat negeri maju seperti Amerika sudah banyak yang meninggalkan konsumsi susu bubuk dan beralih ke susu cair. Riset Canadian 2004 melaporkan konsumsi susu penduduk Amerika sudah mencapai 100 liter per kapita per tahun atau 24.634,7 juta liter susu cair per tahun dan 59,5 juta liter susu bubuk per tahun. Begitu pula Australia yang sudah mencapai 90 liter perkapita per tahun. Sementara China 11.256 juta liter per tahun.

Memang susu bubuk itu sendiri asalnya juga dari susu segar atau rekombinasi dengan zat lain seperti lemak, dan protein yang dikeringkan. Namun proses pengolahan susu bubuk yang umumnya melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi terutama vitamin dan protein. Menurut Astawan kerusakan protein bisa berupa terbentuknya pigmen coklat (melonodin) akibat reaksi Maillard. Reaksi ini biasanya terlihat pada pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula danprotein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung cukup lama. Pemanasan seperti ini dapat menyebabkan penurunan daya cerna protein. Pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino, yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Padahal tubuh manusia hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.

Karena itulah banyak ahli gizi dunia yang menyarankan agar kembali mengkonsumsi susu secara alamiah atau susu segar. Hanya sayangnya susu segar yang diperoleh dari pemerahan sapi tidak tahan lama. Rata-rata dalam waktu enam jam kondisi susu akan rusak karena kontiminasi dengan udara yang memudahnya munculnya bakteri pembusuk.

"Namun sekarang ini masyarakat dunia tidak perlu khawatir karena sudah banyak industri pengolahan susu dengan menggunakan teknologi tertentu seperti UHT dan pasteurisasi yang memproduksi susu segar," ujar Astawan. Setidaknya dengan proses pengolahan susu segar seperti itu, kata dia, dapat meminimalisasi kerusakan gizi yang terkandung di dalam bahan baku susu bersangkutan.

Pasteurisasi
Pengolahan susu secara pasteurisasi itu biasanya dengan memberi perlakuan panas sekitar 63-72 derajat Celcius selama 15 detik. Tujuannya membunuh bakteri patogen.

Jika Anda penggemar susu ini mesti konsisten dalam penyimpanannya. Susu hasil pasteurisasi ini hanya memiliki umur simpan sekitar 14 hari dan harus disimpan pada susu rendah (5-7 derajat celcius).

Untuk susu UHT (ultra high temperature), pengolahan susu segar ini menggunakan pemanasan suhu tinggi (135-145 derajat celcius) dalam waktu yang relatif singkat (2-5 detik). Porses pemasanan seperti itu selain dapat membunuh seluruh mikroorganisme (bakteri pembusuk maupun patogen) dan spora (jamur) juga untuk mencegah kerusakan nilai gizi. Bahkan dengan proses UHT, warna, aroma dan rasa relatif tidak berubah dari aslinya sebagai susu segar.

Di Indonesia sendiri meski belum sesemarak India dan Vietnam namun sejak 1975-an susu segar proses UHT sudah banyak dijumpai di pasaran. Salah satunya adalah PT Ultrajaya Milk Industry Tbk. dengan kapasitas terpasang 100 juta liter per tahun.

"Produksi susu ini 100% dari bahan baku susu segar yang diperoleh dari peternak susu di Jawa Barat. Mereka tergabung dalam satu wadah koperasi," ujar M. Muhthasawwar, senior marketing manager PT Ultrajaya Milk Industry Tbk.

Perjalanan dari koperasi ke pabrik hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam sehingga tingkat kesegaranya masih tetap terjaga. Begitu sampai di pabrik langsung diolah dengan menggunakan teknologi sterilisasi UHT.

Teknologi dengan sistem komputer dan robot siap memanaskan susu selama empat detik dengan suhu 140 derajat Celcius. Pemanasan yang tinggi dan singkat hanya untuk mematikan semua bakteri tanpa merusak kesegaran dan kualitas gizi susu segarnya.

Setelah itu susu dikemas dalam kemasan aseptik yakni menggunakan kemasan multilapis terdiri dari kertas, plastik, polyethylene dan aluminium foil agar kedap udara dan cahaya. Kemasan tersebut mampu melindungi kualitas susu segar dari pengaruh sinar ultraviolet hingga 10 bulan.

Dengan begitu susu cair UHT tanpa bahan pengawet ini bisa bertahan lama setidaknya sampai enam bulan, dengan catatan kemasanya masih utuh tidak cacat. Selain itu susu ini juga bisa dikonsumsi orang dewasa maupun anak-anak usia satu tahun ke atas.
(idionline)

"…di atas 1 tahun, susu BUKAN lagi makanan utama bagi anak. Susu hanyalah sebagai salah satu sumber kalsium. Jadi … ya makan sehat seimbang sesuai piramida makanan … sumber kalsiumnya kan banyak …Kita kan sudah sangat paham bahwa susu untuk di atas 1 tahun cukup fresh milk biasa … gak usah yang mahal2…"

(Dr. Purnamawati, SpAK, MMPed)