Lebih Baik Mengkonsumsi Susu Segar

Lebih baik mengkonsumsi susu segar

(http://www.keluargasehat.com/pola-konsumsiisi.php?news_id=199)

Orang Indonesia lebih mengenal susu bubuk padahal proses pengolahan susu bubuk- melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama-sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi, terutama vitamin dan protein. Orang Indonesia lebih mengenal susu bubuk padahal proses pengolahan susu bubuk- melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama-sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi, terutama vitamin dan protein.

Oleh karena itu masyarakat di negara maju sekarang lebih memilih susu segar. Susu disebut-sebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim-enzim, gas serta vitamin. Bisa dikatakan kandungan yang ada pada susu hewan mamalia khususnya sapi hampir mencukupi seluruh kebutuhan tubuh manusia. Pasalnya jumlah kandungan zat-zat tersebut begitu mamadai.

Tentu kandungan zat-zat secara utuh itu ada pada susu segar. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) susu segar itu merupakan cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih yang diperoleh dari cara pemerahan yang benar serta kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah suatu apapun dan belum mendapat perlakuan apa pun.

Namun dalam praktiknya, menurut Prof. Made Astawan, pakar teknologi pangan dan gizi Fakultas Teknologi Pertanian IPB, untuk mendapatkan susu sesuai definisi SNI tidak mudah. Apalagi di kalangan masyarakat kita cenderung lebih familiar dengan produk susu olahan baik bentuk cair maupun padat. Itu pun tingkat konsumsinya masih relatif rendah. "Bandingkan saja dengan India, tingkat konsumsi susunya jauh lebih tinggi yakni mencapai 43.929,2 juta liter susu cair per tahun dan 1.173 juta liter susu bubuk per tahun," kata Astawan pada presentasi pentingnya mengonsumi susu cair di pabrik Ultrajaya Tbk belum lama ini.

Sejumlah riset pada 2004 melaporkan konsumsi susu di Indonesia baru mencapai tujuh liter per kapita per tahun atau baru 197, 5 juta liter per tahun untuk susu cair dan 625,7 juta liter susu bubuk. Dari data itu pun terlihat bahwa komsumsi susu bubuk di Indonesia sangat tinggi dibanding susu cair. Padahal kalau mau menilik lebih jauh masyarakat negeri maju seperti Amerika sudah banyak yang meninggalkan konsumsi susu bubuk dan beralih ke susu cair. Riset Canadian 2004 melaporkan konsumsi susu penduduk Amerika sudah mencapai 100 liter per kapita per tahun atau 24.634,7 juta liter susu cair per tahun dan 59,5 juta liter susu bubuk per tahun. Begitu pula Australia yang sudah mencapai 90 liter perkapita per tahun. Sementara China 11.256 juta liter per tahun.

Memang susu bubuk itu sendiri asalnya juga dari susu segar atau rekombinasi dengan zat lain seperti lemak, dan protein yang dikeringkan. Namun proses pengolahan susu bubuk yang umumnya melalui pengeringan dengan waktu yang cukup lama sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan gizi terutama vitamin dan protein. Menurut Astawan kerusakan protein bisa berupa terbentuknya pigmen coklat (melonodin) akibat reaksi Maillard. Reaksi ini biasanya terlihat pada pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula danprotein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung cukup lama. Pemanasan seperti ini dapat menyebabkan penurunan daya cerna protein. Pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino, yaitu perubahan konfigurasi asam amino dari bentuk L ke bentuk D. Padahal tubuh manusia hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L.

Karena itulah banyak ahli gizi dunia yang menyarankan agar kembali mengkonsumsi susu secara alamiah atau susu segar. Hanya sayangnya susu segar yang diperoleh dari pemerahan sapi tidak tahan lama. Rata-rata dalam waktu enam jam kondisi susu akan rusak karena kontiminasi dengan udara yang memudahnya munculnya bakteri pembusuk.

"Namun sekarang ini masyarakat dunia tidak perlu khawatir karena sudah banyak industri pengolahan susu dengan menggunakan teknologi tertentu seperti UHT dan pasteurisasi yang memproduksi susu segar," ujar Astawan. Setidaknya dengan proses pengolahan susu segar seperti itu, kata dia, dapat meminimalisasi kerusakan gizi yang terkandung di dalam bahan baku susu bersangkutan.

Pasteurisasi
Pengolahan susu secara pasteurisasi itu biasanya dengan memberi perlakuan panas sekitar 63-72 derajat Celcius selama 15 detik. Tujuannya membunuh bakteri patogen.

Jika Anda penggemar susu ini mesti konsisten dalam penyimpanannya. Susu hasil pasteurisasi ini hanya memiliki umur simpan sekitar 14 hari dan harus disimpan pada susu rendah (5-7 derajat celcius).

Untuk susu UHT (ultra high temperature), pengolahan susu segar ini menggunakan pemanasan suhu tinggi (135-145 derajat celcius) dalam waktu yang relatif singkat (2-5 detik). Porses pemasanan seperti itu selain dapat membunuh seluruh mikroorganisme (bakteri pembusuk maupun patogen) dan spora (jamur) juga untuk mencegah kerusakan nilai gizi. Bahkan dengan proses UHT, warna, aroma dan rasa relatif tidak berubah dari aslinya sebagai susu segar.

Di Indonesia sendiri meski belum sesemarak India dan Vietnam namun sejak 1975-an susu segar proses UHT sudah banyak dijumpai di pasaran. Salah satunya adalah PT Ultrajaya Milk Industry Tbk. dengan kapasitas terpasang 100 juta liter per tahun.

"Produksi susu ini 100% dari bahan baku susu segar yang diperoleh dari peternak susu di Jawa Barat. Mereka tergabung dalam satu wadah koperasi," ujar M. Muhthasawwar, senior marketing manager PT Ultrajaya Milk Industry Tbk.

Perjalanan dari koperasi ke pabrik hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam sehingga tingkat kesegaranya masih tetap terjaga. Begitu sampai di pabrik langsung diolah dengan menggunakan teknologi sterilisasi UHT.

Teknologi dengan sistem komputer dan robot siap memanaskan susu selama empat detik dengan suhu 140 derajat Celcius. Pemanasan yang tinggi dan singkat hanya untuk mematikan semua bakteri tanpa merusak kesegaran dan kualitas gizi susu segarnya.

Setelah itu susu dikemas dalam kemasan aseptik yakni menggunakan kemasan multilapis terdiri dari kertas, plastik, polyethylene dan aluminium foil agar kedap udara dan cahaya. Kemasan tersebut mampu melindungi kualitas susu segar dari pengaruh sinar ultraviolet hingga 10 bulan.

Dengan begitu susu cair UHT tanpa bahan pengawet ini bisa bertahan lama setidaknya sampai enam bulan, dengan catatan kemasanya masih utuh tidak cacat. Selain itu susu ini juga bisa dikonsumsi orang dewasa maupun anak-anak usia satu tahun ke atas.
(idionline)

"…di atas 1 tahun, susu BUKAN lagi makanan utama bagi anak. Susu hanyalah sebagai salah satu sumber kalsium. Jadi … ya makan sehat seimbang sesuai piramida makanan … sumber kalsiumnya kan banyak …Kita kan sudah sangat paham bahwa susu untuk di atas 1 tahun cukup fresh milk biasa … gak usah yang mahal2…"

(Dr. Purnamawati, SpAK, MMPed)



4 Comments »

  1.   yendoel Said:

    on October 17, 2006 at 9:42 pm

    fresh milk kan lebih mahal dari susu bubuk. gak kejangkau harganya oleh sebagian orang. susu bubuk 300gram bisa bikin bergelas2, sementara fresh milk, 1 gelas aja berapa coba hargannya?

  2.   Renee Said:

    on October 17, 2006 at 10:43 pm

    gak mesti fresh milk koq, yen, kalo halangannya harga…kan ada solusi alternatifnya: UHT boleh, pasteurized bisa.
    buat gambaran: aila minum UHT sehari paling banyak 1 liter, yg harganya 9500 rupiah/box. sebulan maksimal kami habis 295rb utk susu aila. kalo dibeliin susu bubuk (yg katanya plus-plus) 300 ribu gak dapet 2 klg yg 900 gr krn 1 klg 165rb (kemaren liat di hero :D). 900 gr paling habis dlm 10 hari.
    apalagi menilik kehilangan protein & vitamin dlm pembuatan susu bubuk…sayang kan?!
    belum lagi adanya zat2x aditif yg ditambahin ke dalam susu (perasa, pewarna, gula, vitamin2x sintetis+traces elements yg daya cerna dlm tubuhnya rendah).
    it’s all a matter of choice. sebagai ortu kita pengen anak kita dapet yg terbaik yg bisa kita berikan. ya kan?! ;P

  3.   yendoel Said:

    on October 24, 2006 at 12:57 am

    maksud gua gak hanya dalam konteks susu untuk anak aja. tapi dalam kontek umum masyarakat indo. mana kuku masyarakat kita minum susu 9500/liter. sering harga bukanlah ukuran terbaik. kita sering tertipu ‘brand’. susu bubuk anak gua sih sekitar 100rb sekilo. dumex. jangan beli susu berasa macam2 dong. masak di indo gak ada yang tanpa rasa macam2? jangan ketipu juga, susu UHT banyak yang dibikin dari susu bubuk. jangan percaya 100% ama pabrik2 makanan/minuman. bahkan sertifikat ini itu, termasuk juga ISO segala macam bisa ‘dibeli’ kok! kadang2 sekali2 anak gua dikasih yoghurt sama orang rumah. katanya kandungan gizi dalam yoghurt malah lebih bagus dari susu.

  4.   Renee Said:

    on October 26, 2006 at 4:47 pm

    jeleknya yen disini susu plain tuh kaya’ anak tiri. kalah sama susu flavored! bahkan susu buat kita2x yg tua2x juga gitu… :( rella aja (dia kan kerja di nestle tuh) nganjurin minum susu UHT/cair.
    soal ekonomis, susu cair yg dijual di abang2x gerobakan itu (susu nasional, KPBG, dll) itu juga cukup ekonomis. beli rokok sebungkus, dapet susu itu 4 cup 250 ml :) cuma loe tau sendiri lah gimana sistem prioritas bangsa ini… :( o iya, kalo susu cair yg dibuat dari susu bubuk namanya susu recombined. biasanya kalo bahan bakunya import (susu dari NZ contohnya)direcombine di negara konsumennya. tapi bubuk utk susu recombined gak ’semiskin’ bubuk susu utk disimpen dlm kaleng.
    yoghurt emang bagus yen…aila udah sejak umur 9 blnan konsumsi petit miam. bagusan yoghurt daripada ice cream, selain kadar gulanya jauh lebih rendah yoghurt jg ada lactobacillus-nya yg menjaga keseimbangan pencernaan & bisa mensupport penyembuhan (terutama terhadap flu). kalo loe mau, ntar gw cariin artikelnya. let me know, OK?! ;)

{ RSS feed for comments on this post}

Leave a Comment