Archive for May, 2007

Memanjakan Diri

Tadi pagi, Fanny ngajakin gw sarapan bareng. Berhubung udah sarapan bareng Ibu & Aila earlier, gw ajak Fanny lunch bareng. Ternyata Fanny berencana massage & scrubbing di LifeSpa. Hmmm…godaan besar nih. Cuma perlu dikomporin dikit, dgn tipisnya gw bersedia deh ikutan.

Jam 11.30 gw & Fanny udah di LifeSpa. Masseuse gw namanya Mba’ Anita. Beda sama ritual pijat-lulur sama Bu Supartina, di LifeSpa badan gw discrubbing dulu. Scrubnya juga beda. Wanginya lembut, gak menyengat bau essential oil. Entah gwnya yg cape’ ato emang nikmeh bgt, gw lsg tidur pules aja :D Tau2x udah mesti balik badan :D Abis scrubbing, baru deh ‘acara inti’ dilaksanakan :D PIJAT!!! Nyam3x…asli gw tidur lelap pas dipijat! Nikmat bgt!!! Minyak pijatnya juga wanginya lembut & gak panas. Pas deh buat gw. Cuma tangannya Mba’ Anita rada2x keras buat gw. Apa krn gw yg udah kelamaan kagak pijat ya?!

Kelar pijat & scrub, gw mandi deh…terus minum teh jahe hangat (mmm ;P)…terus MAKAN BAKSO!!! Huahahahaha!!! :D Acara baru kelar jam 14.30!!! Edan…korupsi jam kerja nih gw :D Gak pa-pa lah…Toh tiap hari gw udah nongkrong di kantor jam 06.00 ato bahkan lebih pagi lagi. Kata Fanny "You deserve it, Ren…" Thanks, Fan… :)

Kontroversi Penambahan AA & DHA pada Makanan Bayi

Kontroversi penambahan AA dan DHA pada makanan bayi
08/09/2006 - Dr Widodo Judarwanto SpA

Saat ini sebagian besar susu formula atau makanan bayi selalu ditambah bahan DHA (docosahexaenoic) dan AA (arachidonic acid). Promosi makanan bayi selalu didominasi oleh "ikon" formula kecerdasan tersebut. Orang tua pasti akan terhanyut dengan promosi ini. Sehingga susu dan makanan bayi tanpa bahan tersebut pasti kalah bersaing di pasaran padahal harganya relatif lebih mahal.

Yang lebih tragis rayuan promosi ini, kadang menenggelamkan kehebatan manfaat ASI. Benarkah AA dan DHA berpengaruh terhadap kecerdasan? Amankah pemberian AA dan DHA secara jangka panjang pada bayi dan anak?

British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO(Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur.

Sedangkan Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi, karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan hasil bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak terbukti manfaatnya untuk kecerdasan bayi.

LATAR BELAKANG PEMBERIAN
Kualitas manusia sangat ditentukan oleh pertumbuhan dan perkembangannya sejak dini. Pemenuhan gizi yang baik dan benar merupakan modal dasar agar anak dapat mengembangkan potensi genetiknya secara optimal. Zat gizi yang diberikan harus tersedia secara tepat baik kualitas maupun kuantitasnya.

Mulai dari protein dengan asam aminonya baik yang esensial maupun non-esensiel, sumber kalori, berupa karbohidrat ataupun lemak, vitamin, dan mineral.

DHA dan AA adalah komponen terbesar dari long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA), merupakan bahan yang sangat penting bagi organ susunan saraf pusat. DHA penting untuk pembentukan jaringan saraf dan sinap,sedangkan AA berperan sebagai neurotransmitter sebagai suatu bentuk asam lemak yang essensial LC-PUFA harus ditambahkan pada makanan.

Asam lemak esensial sebenarnya terdiri dari asam linoleat (AL) atau -linolenic acid" (ALA) sertaa"linoleic acid" (LA), asam linolenat (ALN) atau " asam arachidonic atau "arachidonic acid" (AA). Asam lemak ini tidak bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari karbohidrat ataupun asam amino.

Asam arachidonic dapat dibuat dari asam linolenat (seri n-6), karenanya yang dianggap sebagai asam lemak esensial hanyalah asam lemak lenolenat dan asam lemak linolenat. Kedua asam lemak esensial ini tidak dapat saling berubah dari yang satu menjadi yang lain serta berbeda baik dalam metabolisme maupun fungsinya, bahkan secara fisiologik keduanya mempunyai fungsi yang berlawanan.

Penelitian pemberian AA/DHA pada bayi prematur terbukti menunjukkan bahwa pemberian LC-PUFA sebagai suplemen dapat meningkatkan kemampuan visual dan perkembangan sistem saraf terutama pada bayi prematur. Proses pembuatan DHA maupun AA difasilitasi oleh enzim desaturase dan elongase. Aktifitas kedua enzim ini masih sangat kurang pada bayi prematur bahkan pada bayi aterm sampai usia 4-6 bulan. Karenanya penambahan DHA dan AA pada bayi prematur lebih relevan diberikan, dengan dosis yang mengacu pada kandungan asam lemak dalam ASI.

PENELITIAN KONTROVERSIAL
Manfaat pemberian AA dan DHA pada bayi cukup bulan dan anak dianggap masih kontroversial. Beberapa penelitian pendahuluan mengklaim bahwa pemberian zat AA dan DHA meningkatkan perkembangan tingkat kecerdasan tertentu dan kemampuan visual anak.

Sebuah penelitian menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa pakar menilai beberapa penelitian suplementasi AA/DHA tersebut terdapat kelemahan sehingga tampaknya tidak universal dapat digunakan sebagai acuan.

Banyak pakar berpendapat bahwa enzim yang berfungsi untuk proses biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi. Teori inilah yang mematahkan pendapat bahwa AA dan DHA perlu diberikan pada anak dan bayi. Sehingga banyak penelitian juga mengungkapkan bahwa penambahan DHA dan AA pada susu formula, ternyata tidak terbukti meningkatkan kemampuan penglihatan dan sistem saraf bayi.

Hasil penelitian Ross Paediatric Lipid Study di Amerika Serikat pada tahun 1997 yang menunjukkan tidak adanya perbedaan pertumbuhan dan fungsi penglihatan pada bayi yang diberi DHA dan AA di 12 bulan pertama.

American Council on Science and Health juga menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penambahan DHA dan AA pada formula untuk bayi yang lahir normal. Demikian juga penelitian yang dilakukan David dkk ternyata pemberian AA dan DHA tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada Bayley Mental Scale, Bayley Motor Scale, Vocabulary Comprehension andProduction Scale.

Meskipun demikian Food and Drug Administration (FDA) memberikan ijin kepada Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA pada tahun 2002. Harganya sekitar 20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi.

WASPADAI PEMBERIAN AA DAN DHA
Pada bayi cukup bulan atau anak besar pemberian suplemen DHA dan AA perlu diteliti lebih jauh mengingat adanya kemungkinan efek samping yang belum terdeteksi dan teruji. Pemberian lemak yang berlebihan dapat menyebabkan kegemukan, serta penyakit jantung bahkan dapat menimbulkan keganasan; dapat meningkatkan kadar kolesterol, dan LDL yang dapat memacu terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.

Hal ini sangat tergantung pada jumlah energi yang berasal dari lemak, komposisi dari asam lemaknya, komposisi dari lipoprotein, diet serat yang dikonsumsi, antioksidan, aktifitas, serta derajat kesehatannya. Pada anak yang tidak aktif konsumsi lemak tidak boleh melebihi dari 30% kebutuhan energi.

Penelitian yang dilakukan penulis terhadap 256 bayi dengan riwayat alergi yang melakukan rawat jalan di Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta didapatkan 34 (13%) bayi mengalami reaksi simpang terhadap AA dan DHA.

Setelah dilakukan eliminasi provokasi susu formula AA/DHA dan susu tanpa AA/DHA dengan jenis yang sama. Gejala yang ditimbulkan karena pengaruh reaksi simpang tersebut antara lain adalah dermatitis, batuk dan gangguan saluran cerna berupa muntah, diare atau konstipasi.

Reaksi simpang makanan yang berlangsung lama bukan hanya mengganggu pertumbuhan tetapi juga mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak seperti hiperaktif, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan belajar dan gangguan perilaku lainnya.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun pada makanannya perlu dipertimbangkan lebih cermat. Pada bayi yang aterm ataupun anak besar sudah dapat mensintesa DHA maupun AA dari LC-PUFA sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan pemberian DHA yang berlebihan dapat menekan proses pembentukan AA, serta dapat menekan aktifitas ensim siklooksigenase yang memfasilitasi pembentukan prostaglandin PGH2 dan PGH3 dari AA, sehingga dapat menghambat pembentukan prostaglandin berikut tromboksan dan leukotrin, dapat menyebabkan terhambatnya respons terhadap proses keradangan khususnya pada pelepasan interleukin-1 dan TNF, memanjangnya masa perdarahan, menurunnya renin yang turut dalam pengontrolan fungsi ginjal.

Overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda.

Bagaimana orang tua untuk menyikapinya untuk masalah ini? Pertimbangan utama dalam pemilihan susu formula yang terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi anak dan tidak mengakibatkan reaksi simpang yang mengganggu fungsi organ tubuhnya.

Pertimbangan lain adalah masalah harga harus disesuaikan dengan ekonomi keluarga serta kesediaan barang dan distribusi yang berkelanjutan di pasaran. Kandungan zat tambahan (AA, DHA, dll), harga mahal, disukai bayi dan merek terkenal bukanlah pertimbangan utama dalam pemilihan susu formula pada anak.

Secara umum semua susu formula yang beredar resmi di Indonesia kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tetapi apapun juga, yang pasti ASI masih tetap yang terbaik.

Dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CENTER, Rumah Sakit Bunda Jakarta
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN ANAK),
Jl Rawasari Selatan 50 Cempaka Putih Jakarta Pusat
Telepon : (021) 4264126 - (021) 70081995 - (021) 31922005

AILA JATUH!!! :’(

Senin, 30 April 2007, sekitar jam 17.30…Gw & Aa’ otw back home, pas HP Aa’ bunyi. Mba’ Apri telpon sambil nangis (kt Bengep1Aa’). AILA JATUH DARI TANGGA!!! Kelopak mata bawah yg sebelah kanan luka sekitar 1 cm. Mata kanannya bengkak. Pangkal hidungnya benjol sebesar telur ayam kampung. God… :’(

19.30…sampe rumah. Gara2x mobil mogok di depan UI, macetnya jadi gila2xan. Begitu sampe di carport, gw lari turun dr Jojo. Aila lagi di depan TV, gak pake baju krn baru mau mandi. Duuuhhh Bengep2Gusti…mata indahnya bengep (walau ‘cuma’ yg kanan), tinggal segaris, dgn ‘hiasan’ luka di kelopak bawah. Hidungnya yg pesek (tp cute) rada sudah dgn jidatnya yg jenong krn ‘bantuan’ benjol di pangkal hidungnya… :’(

"Bunda…tadi Aila jatuh…maafin Aila ya Bum…" katanya.

Gw berusaha keras utk gak nangis. Gw gak pengen dia merasa dikasihani. Gw peluk Aila, sambil mencoba mengevaluasi kondisinya lebih lanjut. Alhamdulillah, badannya baik2x aja. Gak ada memar. Aila juga gak muntah setelah jatuh, gak mimisan, & gak ada luka di mulut/gigi yg patah/goyah.

Dari keterangan Mba’ Apri & Mba’ Yuli, jam 16.30-an Aila mencoba menyusul Mba’ Yuli yg sedang ngangkat2xin jemuran di loteng. Ngeliat Aila naik tangga sendiri, Mba’ Yuli nyuruh Aila nunggu Mba’ Apri. Maka duduklah Aila di anak tangga sambil nungguin Mba’ Apri datang. Pas Mba’ Apri datang (posisinya udah di depan Aila), Aila bangun dr duduknya. Ndilalahnya punggung Aila kebentur anak tangga diatasnya & tersungkurlah dia ke bawah. Semuanya terjadi cukup cepat & Mba’ Apri gak sempat nangkep badan Aila. Aila terguling jatuh sekitar 2 anak tangga dgn posisi wajah membentur anak tangga :’(

Mba’ Apri & Mba’ Yuli sendiri nangis saat nyeritain kejadian diatas ke gw. Mungkin mereka takut gw marah. Tapi gw udah gak bisa marah. Buat apa juga marah? Semua udah terjadi & mereka ada di posisi yg benar koq. Menurut gw & Aa’, marah cuma akan memperkeruh keadaan.

Selesai mereka cerita, gw telpon Ibu. Lewat Ibu, Ayah ngasih tips2x apa yg harus gw kerjain utk mengevaluasi keadaannya Aila. Pertama test mata. Gw sempet mo pingsan waktu Aila bilang "Aila gak bisa liat" saat mata kirinya (mata yg gak kenapa2x) gw tutup & gw tanya apa yg dia liat. Untung Aa’ ngingetin kalo kondisi mata kanan Aila kan lagi bengkak luar biasa, jadi mungkin aja sulit buat dia utk ngeliat hanya dgn mata kanannya. Tapi waktu gw test dgn cara lain, alhamdulillah mata kanan Aila masih ngerespon. Ayah sendiri gak merasa perlu ngebawa Aila ke dokter spesialis mata sekarang krn takut bakal bikin Aila trauma. Beliau nyaranin, ntar aja kalo udah sembuh bengkaknya. Kan juga akan lebih mudah meriksanya…

Malem itu gw lsg sms ke Mas Ade (boss gw) & Mba’ Ega (sekretaris department) kl gw besok gak masuk. Mereka ngedoain semoga Aila cepat sembuh. Begitu juga temen2x sekantor lainnya waktu gw sms kl gw gak ngantor. Malem itu Aila kebangun sekitar 3 ato 4x sambil mengaduh-ngaduh kesakitan. Hiks :’( Gw bener2x sedih dengernya…

Bengep3 Paginya Aila udah kaya’ gak ada apa2x. Dia makan seperti biasa, main seperti biasa, bahkan lari2x & manjat2x lagi as if nothing happened the day before :D Dia gak ngeluh pusing ato penglihatannya aneh. Hanya "Pipiku sakit kalo aku pake ketawa. Jidatnya juga…Benjol sih…". Itu aja! :D Selebihnya, the old Aila was back in one night :D Maksud hati gw kan bolos kerja biar bisa nemenin dia di rumah, eeehhh…dianya malah kelayapan main sama gank bocahnya & jalan2x keliling kompleks! Thanks God…at least I know she’s OK now :)